Kelahiran
dan Masa Pertumbuhannya
Lahir di Kairo
pada 11 Maret 1918, di tengah keluarga sederhana. Setelah menyelesaikan
pendidikannya di sekolah Ibtidaiyyah dan Tsanawiyah, ia lalu mendaftar di
Departemen Kesehatan, bagian penanggulangan penyakit Malaria pada tahun 1934.
Tak lama kemudian ia keluar dari Departemen Kesehatan tahun 1938 dan berfikir
untuk melanjutkan pendidikannya di salah satu Perguruan Tinggi Amerika untuk
belajar farmasi agar kelak ia dapat bekerja di apotik (Al Istiqlal) milik orang
tuanya. Namun salah seorang ulama berhasil meyakinkannya agar ia tidak
berangkat ke Amerika karena disana terjadi banyak dosa-dosa besar. Ia pun
membatalkan niatnya setelah mempersiapkan sebuah koper besar untuk berangkat ke
sana, dan memutuskan menuju Iskandariah dengan sebuah kapal laut. Itu terjadi
pada tahun 1938M.
Keterikatannya
dengan Jamaah Ikhwanul Muslimin
Ia bergabung
dengan Jamaah Ikhwanul Muslimin pada tahun 1941.
Muhammad
Kamaluddin As Sananiri adalah murid yang setia terhadap prinsip-prinsip Syeikh
dan gurunya, Imam Syahid Hasan Al Banna. Dapat memahami pelajaran saat pertama
kali disampaikan. Ketika itu pula ia menyadari bahwa jalan dakwah yang akan
dilaluinya sarat dengan marabahaya, dipenuhi duri dan mungkin saja membahayakan
keselamatan jiwanya. Seperti itulah jalan menuju syurga: dikelilingi sesuatu
yang dibenci.
Ia kerap
mengulang-ulang tulisan gurunya yang ditujukan kepada murid-muridnya,
“Kebodohan masyarakat terhadap hakikat Islam adalah rintangan terbesar yang ada
di hadapan kalian. Para ulama yang berada di dalam gerbong kekuasaan akan
memerangi kalian. Pemerintah juga akan selalu berusaha menghalangi aktivitas dan gerakan kalian serta
meletakkan berbagai rintangan di atas jalan yang kalian lalui, meminta bantuan
kepada jiwa-jiwa yang lemah, hati yang sakit, dan tangan yang senantiasa
terulur memohon bantuan kepadanya, sementara kepada kalian terulur tangan
permusuhan.
Saat itu
kalian akan di penjara, diasingkan, rumah kalian diawasi ketat, harta
benda kalian disita, kalian dituduh sebagai pelaku kejahatan dan dakwaan dusta
untuk merusak nama baik dan menghancurkan reputasi kalian. Ujian dan cobaan
yang kalian akan lalui ini berlangsung lama, dan pada saat itulah kalian baru
saja melalui jalan para penyeru dakwah ini.”
Ustadz
Kamaluddin As Sananiri menterjemahkan ucapan ke dalam realitas yang begitu
nyata. Ia hidup bersama saudara-saudaranya yang lain sekitar seperempat abad
lamanya di penjara, dalam kegelapan dan di bawah ayunan cemeti budak-budak
penguasa dan kaki tangannya. Namun mereka tidak goyah, dan tak satu katapun
keluar dari lisan mereka selain dzikir kepada Allah Ta’ala sembari merasakan
kebersamaan dengan-Nya. Ayunan cemeti yang melecut tubuh mereka dan siksaan
yang tiada henti hanya menambah kedekatan dan cinta mereka kepada Allah dan
kerinduan untuk bertemu dengan-Nya.
Penangkapan
dan Penahanan
Beliau
ditangkap pada bulan Oktober 1954, pengadilan yang dibentuk oleh tirani Abdul
Nasser lalu menjatuhkan padanya hukuman penjara yang berakhir pada tahun 1974.
Siksaan keji yang dilakukan padanya di penjara membuat telinganya cidera parah,
itulah yang menyebabkannya dipindahkan ke rumah sakit ‘Aini. Namun ia sangat
bersyukur kepada Allah, karena ketika keluar dari penjara telinganya yang sakit
dahulu akibat siksaan itu berfungsi jauh lebih baik dari pada telinganya yang
lain.
Keras dan
kejamnya siksaan yang dilakukan terhadap ustadz As Sananiri, membuat saudara
istrinya—yang akhirnya ia ceraikan saat berada di dalam penjara—yang turut bersamanya
mengalami depresi, bahkan pemuda tersebut menjadi gila hingga akhirnya
dipindahkan ke rumah sakit jiwa.
Adapun ibu
Ustadz Kamal As Sananiri dan saudara perempuannya selalu hadir saat pengadilan
lolucon terhadap dirinya digelar para tahun 1954. Pada pengadilan pertama, ibu
Kamal As Sananiri tidak dapat mengenal wajah putranya akibat siksaan kejam yang
dilakukan padanya. Ia pun bertanya kepada putrinya, “Manakah saudaramu, Kamal.”
Putrinya berkata, “Itu dia, yang berada di dalam kerangkeng tahanan.” Ibunya
tidak percaya dan berkata, “Bukan, wahai putriku. Apakah mataku sudah rabun
sehingga saya tak lagi mengenalnya?”
Tubuh As
Sananiri bahkan menjadi kurus sehingga pakaian yang ia kenakan menjadi longgar.
Mereka juga mencukur habis rambut dan janggutnya, mematahkan tulang rahangnya
sehingga caranya bicara jadi berubah, sebagaimana telinga kirinya yang cidera
hingga tidak berfungsi. Itulah yang membuat ibunya pangling dan tidak kenal
wajah putranya sendiri.
Pernikahannya
di Dalam Penjara
Penahanannya yang
sangat lama di dalam penjara membuatnya melakukan ikatan pernikahan dengan ukht
Aminah Quthb, adik perempuan asy-Syahid Sayyid Quthb dan berkumpul dengannya
setelah keluar pada tahun 1973. Namun pernikahan tersebut tidak membuahkan
seorang anak, karena ukht Aminah Quthb ketika itu telah berusia lebih dari 50
tahun.
Sifat
Zuhud dan Wara’nya
Salah satu
sifat dan karakter Kamal As Sananiri adalah tidak suka menonjolkan diri,
cenderung kepada kesederhanaan, menyukai orang-orang yang sederhana dan peduli
pada nasehat dan arahan mereka semuanya atas akidah yang benar dan bersih dari
bid’ah dan khurafat. Ia zuhud dalam kehidupan. Bangun pada malam hari dan puasa
di siang hari. Hidup di dalam penjara dengan hanya mengenakan pakaian yang
kasar.
Tidak aneh
bila lelaki yang hidup zuhud ini menolak permintaan sipir penjara dan intelejen
pemerintah—selama berada 20 tahun lebih di penjara—agar mendukung pemerintahan
Abdul Nasser. Ia hanya ingin meraih yang baik dan menolak yang hina.
Beberapa
Sikapnya
Saya masih
ingat, suatu kali akh As Sananiri berkunjung ke Kuwait untuk kepentingan
dakwah. Namun adalah kehendak Allah bila Ia mengujiku dengan mengambil kembali
titipan-Nya. Salah satu putraku yang berusia 20 tahun karena kecelakaan mobil.
Saat itu Akh As Sananiri tidak segera meninggalkanku dan terus menghiburku.
Seakan dialah yang tertimpa musibah itu.
Ketika ia
ditahan saat kembali dari Afghanistan, siksaan itu ditimpakan kepadanya oleh
aparat pemerintah, agar mereka mengetahui perannya dalam jihad di Afghan, dan
keterlibatan orang-orang yang bersamanya. Namun ia tetap menolak, sementara
para interogator tersebut tidak pernah keluar dari sel tahanan beberapa hari
lamanya sambil terus menyiksanya tanpa henti. Dan ia pun akhirnya menemui
kematiannya, kembali ke haribaan Tuhannya sebagai syuhada pada tanggal 8
November 1981M.
Organisasi
Internasional Ikhwanul Muslimin menyampaikan kabar duka cita dengan kalimatnya,
“Organisasi Internasional Ikhwanul Muslimin menyampaikan berita duka cita
meninggalnya intelektual Islam, akh Al Mujahid, Asy Syahid Muhammad Kamaluddin
As Sananiri, salah satu pemimpin pergerakan Islam internasional dan berasal
dari jamaah Ikhwanul Muslimin yang ditangkap oleh Anwar Sadat di penghujung
bulan September 1981 setelah ia kembali dari Washington dalam kunjungannya ke
Gedung Putih untuk menerima berbagai instruksi dari ‘majikannya’.”
Sifat zuhud
pada diri akh Kamal As Sananiri sangat menonjol pada hari kematiannya, ketika
proses investigasi dilakukan pada dirinya di bawah pimpinan sang algojo, Hasan
Abu Pasha. Seakan hendak menyambut angin syurga yang senantiasa dirindukannya.
Asy Syahid Kamal As Sananiri akhirnya berada di tangan para algojo yang
berusaha merenggut secara paksa apa yang mereka inginkan darinya dengan
melonatarkan berbagai tuduhan keji terhadap Jamaah Islamiyah. Namun ia tetap
berkata, “Sesungguhnya Sadat telah menggali kuburan untuk dirinya sendiri
dengan menandatangani perjanjian Kamp David yang memutuskan untuk menyerahkan
batang leher rakyat Mesir yang Muslim kepada Israel dan Amerika.” (Al Mujtama’: 11/11/1981M)
Ustadz Shalah
Syadi menulis tentang dirinya, “Kamal As Sananiri menjalani kehidupannya di
dalam penjara Abdul Nasser selama lebih dari 19 tahun lamanya. Tidak mengenakan
kain apapun di dalam penjara selain baju penjara yang kasar. Bahkan pakaian
dalam yang boleh dibeli setiap tahanan di kantin terpaksa tidak beli, bukan
karena ia tidak memiliki uang. Tapi ia menolaknya karena ingin menjalani
hidupnya terbebas dari segala sesuatu yang dapat dijadikan oleh sipir penjara
sebagai fasilitas untuk merayu atau mengancam. Beliau—rahimahullah—lebih
memilih hidup dengan berlepas diri dari segala sesuatu yang mungkin terlarang
baginya, agar mereka tidak dapat menguasai apa yang ada pada dirinya.”
Ini adalah
kunci kepribadiannya yang zuhud. Perilaku dan tabiat yang sudah menjadi
kebiasaan baginya itu adalah sesuatu yang menakjubkan dan mencengangkan bagi
kami. Kami sendiri terkadang mengasihani diri kami agar lebih mampu memikul
sulitnya jalan panjang yang kami lalui sebagaimana yang ditetapkan Allah atas
kami. Adapun dia, maka jiwanya jauh lebih patuh padanya dari pada ujung
jarinya. Kesulitan yang ia rasakan tidak dapat membuatnya harus mengasihani
dirinya.
Majalah Al
Mujtama’ pernah memintaku untuk
bercerita tentang dirinya setelah kematiannya. Majalah ini pun menulis kalimat
berikut ini:
“Majalah Al Mujtama’ memintaku
bercerita tentang akh Asy Syahid Muhammad Kamaluddin As Sananiri yang beberapa
hari lalu meninggal dunia di penjara di tangan para algojo dan polisi
pemerintah yang menggunakan fasilitas
dan kemampuan mereka untuk memerangi Islam dan mengancam para penyerunya di
setiap tempat, khususnya di bumi Mesir yang menjadi bagian dari terjadinya
tragedi ini empat kali secara beruntun.
Ujian pertama
pada tahun 1948/1949 yang ditandai dengan pembunuhan terhadap Imam Syahid Hasan
Al Banna, dan penangkapan kaum Mujahidin Palestina kemudian mereka dijebloskan
ke dalam penjara at-Thur. Cobaan kedua pada tahun 1954 yang merenggut jiwa para
syuhadaa: Muhammad Farghali, Abdul Qadir Audah, Yusuf Thal’at, Ibrahim
ath-Thib, Handawi Duwaier, dan Muhammad Abdul Lathif, disertai
penangkapan terhadap puluhan bahkan ratusan Ikhwan lainnya untuk selanjutnya
dimasukkan ke dalam penjara Liman Thurrah, Al Harbiy, Al Qal’ah, Abu Za’bal dan
sebagainya.
Tragedi
berikutnya terjadi tahun 1965 yang ditandai dengan syahidnya Sayyid Quthb,
Abdul Fattah Ismail, Muhammad Yusuf Hawasy dan sebagainya dari tokoh terbaik
Ikhwan. Ujian tahun 1981 terjadi ketika negeri ini dan masyarakatnya dijual ke
tangan Yahudi dan Amerika, mulut-mulut mereka disumpal, masjid-masjid ditutup,
lembaga-lembaga, media massa, mimbar-mimbar mereka dibredel, sementara
pintu-pintu penjara terbuka untuk menyambut kedatangan kafilah du’at yang
terdiri dari orang tua, para pemuda, bahkan untuk kaum wanita dan anak-anak.
Mereka bahkan
menggunakan akal orang-orang yang tega menjual diri mereka kepada syetan-syetan
Barat untuk menyakiti kaum Muslimin dan wali-wali Allah yang shaleh, yang
menolak tunduk kepada selain Allah. Mereka tetap tinggi dan agung dengan
keimanannya terhadap tirani kezaliman dengan mengutamakan apa yang ada di sisi
Allah daripada berbagai jenis kenikmatan yang ada di muka bumi.
Orang-orang
kecil dan rendahan yang duduk di atas singgasana penguasa itu menduga bahwa
dengan kekejaman yang dilakukannya mereka sanggup membungkam mulut-mulut para
du’at dan menghentikan gerbong kafilahnya yang terus bergerak maju. Mereka lupa
bahwa apa yang dilakukannya adalah memerangi Allah yang Maha Kuat dari segala
sesuatu, dan Maha Besar dari segala yang besar di dunia ini. Tidak bermanfaat
lagi fatwa-fatwa yang dibeli, pernyataan-pernyataan yang mengatasnamakan agama
yang dilakukan oleh para ulama resmi dan orang-orang yang serupa dengannya
dengan memperindah seluruh perilaku mereka. (Majalah
Al Mujtama’, November 1981)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar