Kamis, 21 Maret 2013

Muhammad Kamaluddin As Sananiri Dai dan Mujahid, 1336-1401 H/1918-1981 M



Kelahiran dan Masa Pertumbuhannya
Lahir di Kairo pada 11 Maret 1918, di tengah keluarga sederhana. Setelah menyelesaikan pendidikannya di sekolah Ibtidaiyyah dan Tsanawiyah, ia lalu mendaftar di Departemen Kesehatan, bagian penanggulangan penyakit Malaria pada tahun 1934. Tak lama kemudian ia keluar dari Departemen Kesehatan tahun 1938 dan berfikir untuk melanjutkan pendidikannya di salah satu Perguruan Tinggi Amerika untuk belajar farmasi agar kelak ia dapat bekerja di apotik (Al Istiqlal) milik orang tuanya. Namun salah seorang ulama berhasil meyakinkannya agar ia tidak berangkat ke Amerika karena disana terjadi banyak dosa-dosa besar. Ia pun membatalkan niatnya setelah mempersiapkan sebuah koper besar untuk berangkat ke sana, dan memutuskan menuju Iskandariah dengan sebuah kapal laut. Itu terjadi pada tahun 1938M. 
Keterikatannya dengan Jamaah Ikhwanul Muslimin
Ia bergabung dengan Jamaah Ikhwanul Muslimin pada tahun 1941.
Muhammad  Kamaluddin As Sananiri adalah murid yang setia terhadap prinsip-prinsip Syeikh dan gurunya, Imam Syahid Hasan Al Banna. Dapat memahami pelajaran saat pertama kali disampaikan. Ketika itu pula ia menyadari bahwa jalan dakwah yang akan dilaluinya sarat dengan marabahaya, dipenuhi duri dan mungkin saja membahayakan keselamatan jiwanya. Seperti itulah jalan menuju syurga: dikelilingi sesuatu yang dibenci.
Ia kerap mengulang-ulang tulisan gurunya yang ditujukan kepada murid-muridnya, “Kebodohan masyarakat terhadap hakikat Islam adalah rintangan terbesar yang ada di hadapan kalian. Para ulama yang berada di dalam gerbong kekuasaan akan memerangi kalian. Pemerintah juga akan selalu berusaha menghalangi aktivitas dan gerakan kalian serta meletakkan berbagai rintangan di atas jalan yang kalian lalui, meminta bantuan kepada jiwa-jiwa yang lemah, hati yang sakit, dan tangan yang senantiasa terulur memohon bantuan kepadanya, sementara kepada kalian terulur tangan permusuhan.
Saat itu kalian akan di penjara, diasingkan, rumah kalian diawasi ketat,  harta benda kalian disita, kalian dituduh sebagai pelaku kejahatan dan dakwaan dusta untuk merusak nama baik dan menghancurkan reputasi kalian. Ujian dan cobaan yang kalian akan lalui ini berlangsung lama, dan pada saat itulah kalian baru saja melalui jalan para penyeru dakwah ini.”
Ustadz Kamaluddin As Sananiri menterjemahkan ucapan ke dalam realitas yang begitu nyata. Ia hidup bersama saudara-saudaranya yang lain sekitar seperempat abad lamanya di penjara, dalam kegelapan dan di bawah ayunan cemeti budak-budak penguasa dan kaki tangannya. Namun mereka tidak goyah, dan tak satu katapun keluar dari lisan mereka selain dzikir kepada Allah Ta’ala sembari merasakan kebersamaan dengan-Nya. Ayunan cemeti yang melecut tubuh mereka dan siksaan yang tiada henti hanya menambah kedekatan dan cinta mereka kepada Allah dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya.
Penangkapan dan Penahanan
Beliau ditangkap pada bulan Oktober 1954, pengadilan yang dibentuk oleh tirani Abdul Nasser lalu menjatuhkan padanya hukuman penjara yang berakhir pada tahun 1974. Siksaan keji yang dilakukan padanya di penjara membuat telinganya cidera parah, itulah yang menyebabkannya dipindahkan ke rumah sakit ‘Aini. Namun ia sangat bersyukur kepada Allah, karena ketika keluar dari penjara telinganya yang sakit dahulu akibat siksaan itu berfungsi jauh lebih baik dari pada telinganya yang lain.
Keras dan kejamnya siksaan yang dilakukan terhadap ustadz As Sananiri, membuat saudara istrinya—yang akhirnya ia ceraikan saat berada di dalam penjara—yang turut bersamanya mengalami depresi, bahkan pemuda tersebut menjadi gila hingga akhirnya dipindahkan ke rumah sakit jiwa.
Adapun ibu Ustadz Kamal As Sananiri dan saudara perempuannya selalu hadir saat pengadilan lolucon terhadap dirinya digelar para tahun 1954. Pada pengadilan pertama, ibu Kamal As Sananiri tidak dapat mengenal wajah putranya akibat siksaan kejam yang dilakukan padanya. Ia pun bertanya kepada putrinya, “Manakah saudaramu, Kamal.” Putrinya berkata, “Itu dia, yang berada di dalam kerangkeng tahanan.” Ibunya tidak percaya dan berkata, “Bukan, wahai putriku. Apakah mataku sudah rabun sehingga saya tak lagi mengenalnya?”
Tubuh As Sananiri bahkan menjadi kurus sehingga pakaian yang ia kenakan menjadi longgar. Mereka juga mencukur habis rambut dan janggutnya, mematahkan tulang rahangnya sehingga caranya bicara jadi berubah, sebagaimana telinga kirinya yang cidera hingga tidak berfungsi. Itulah yang membuat ibunya pangling dan tidak kenal wajah putranya sendiri.
Pernikahannya di Dalam Penjara
Penahanannya yang sangat lama di dalam penjara membuatnya melakukan ikatan pernikahan dengan ukht Aminah Quthb, adik perempuan asy-Syahid Sayyid Quthb dan berkumpul dengannya setelah keluar pada tahun 1973. Namun pernikahan tersebut tidak membuahkan seorang anak, karena ukht Aminah Quthb ketika itu telah berusia lebih dari 50 tahun.
Sifat Zuhud dan Wara’nya
Salah satu sifat dan karakter Kamal As Sananiri adalah tidak suka menonjolkan diri, cenderung kepada kesederhanaan, menyukai orang-orang yang sederhana dan peduli pada nasehat dan arahan mereka semuanya atas akidah yang benar dan bersih dari bid’ah dan khurafat. Ia zuhud dalam kehidupan. Bangun pada malam hari dan puasa di siang hari. Hidup di dalam penjara dengan hanya mengenakan pakaian yang kasar.
Tidak aneh bila lelaki yang hidup zuhud ini menolak permintaan sipir penjara dan intelejen pemerintah—selama berada 20 tahun lebih di penjara—agar mendukung pemerintahan Abdul Nasser. Ia hanya ingin meraih yang baik dan menolak yang hina.
Beberapa Sikapnya
Saya masih ingat, suatu kali akh As Sananiri berkunjung ke Kuwait untuk kepentingan dakwah. Namun adalah kehendak Allah bila Ia mengujiku dengan mengambil kembali titipan-Nya. Salah satu putraku yang berusia 20 tahun karena kecelakaan mobil. Saat itu Akh As Sananiri tidak segera meninggalkanku dan terus menghiburku. Seakan dialah yang tertimpa musibah itu.
Ketika ia ditahan saat kembali dari Afghanistan, siksaan itu ditimpakan kepadanya oleh aparat pemerintah, agar mereka mengetahui perannya dalam jihad di Afghan, dan keterlibatan orang-orang yang bersamanya. Namun ia tetap menolak, sementara para interogator tersebut tidak pernah keluar dari sel tahanan beberapa hari lamanya sambil terus menyiksanya tanpa henti. Dan ia pun akhirnya menemui kematiannya, kembali ke haribaan Tuhannya sebagai syuhada pada tanggal 8 November 1981M.
Organisasi Internasional Ikhwanul Muslimin menyampaikan kabar duka cita dengan kalimatnya, “Organisasi Internasional Ikhwanul Muslimin menyampaikan berita duka cita meninggalnya intelektual Islam, akh Al Mujahid, Asy Syahid Muhammad Kamaluddin As Sananiri, salah satu pemimpin pergerakan Islam internasional dan berasal dari jamaah Ikhwanul Muslimin yang ditangkap oleh Anwar Sadat di penghujung bulan September 1981 setelah ia kembali dari Washington dalam kunjungannya ke Gedung Putih untuk menerima berbagai instruksi dari ‘majikannya’.”
Sifat zuhud pada diri akh Kamal As Sananiri sangat menonjol pada hari kematiannya, ketika proses investigasi dilakukan pada dirinya di bawah pimpinan sang algojo, Hasan Abu Pasha. Seakan hendak menyambut angin syurga yang senantiasa dirindukannya. Asy Syahid Kamal As Sananiri akhirnya berada di tangan para algojo yang berusaha merenggut secara paksa apa yang mereka inginkan darinya dengan melonatarkan berbagai tuduhan keji terhadap Jamaah Islamiyah. Namun ia tetap berkata, “Sesungguhnya Sadat telah menggali kuburan untuk dirinya sendiri dengan menandatangani perjanjian Kamp David yang memutuskan untuk menyerahkan batang leher rakyat Mesir yang Muslim kepada Israel dan Amerika.” (Al Mujtama’: 11/11/1981M)
Ustadz Shalah Syadi menulis tentang dirinya, “Kamal As Sananiri menjalani kehidupannya di dalam penjara Abdul Nasser selama lebih dari 19 tahun lamanya. Tidak mengenakan kain apapun di dalam penjara selain baju penjara yang kasar. Bahkan pakaian dalam yang boleh dibeli setiap tahanan di kantin terpaksa tidak beli, bukan karena ia tidak memiliki uang. Tapi ia menolaknya karena ingin menjalani hidupnya terbebas dari segala sesuatu yang dapat dijadikan oleh sipir penjara sebagai fasilitas untuk merayu atau mengancam. Beliau—rahimahullah—lebih memilih hidup dengan berlepas diri dari segala sesuatu yang mungkin terlarang baginya, agar mereka tidak dapat menguasai apa yang ada pada dirinya.”
Ini adalah kunci kepribadiannya yang zuhud. Perilaku dan tabiat yang sudah menjadi kebiasaan baginya itu adalah sesuatu yang menakjubkan dan mencengangkan bagi kami. Kami sendiri terkadang mengasihani diri kami agar lebih mampu memikul sulitnya jalan panjang yang kami lalui sebagaimana yang ditetapkan Allah atas kami. Adapun dia, maka jiwanya jauh lebih patuh padanya dari pada ujung jarinya. Kesulitan yang ia rasakan tidak dapat membuatnya harus mengasihani dirinya.
Majalah Al Mujtama’ pernah memintaku untuk bercerita tentang dirinya setelah kematiannya. Majalah ini pun menulis kalimat berikut ini:
Majalah Al Mujtama’ memintaku bercerita tentang akh Asy Syahid Muhammad Kamaluddin As Sananiri yang beberapa hari lalu meninggal dunia di penjara di tangan para algojo dan polisi pemerintah yang menggunakan fasilitas dan kemampuan mereka untuk memerangi Islam dan mengancam para penyerunya di setiap tempat, khususnya di bumi Mesir yang menjadi bagian dari terjadinya tragedi ini empat kali secara beruntun.
Ujian pertama pada tahun 1948/1949 yang ditandai dengan pembunuhan terhadap Imam Syahid Hasan Al Banna, dan penangkapan kaum Mujahidin Palestina kemudian mereka dijebloskan ke dalam penjara at-Thur. Cobaan kedua pada tahun 1954 yang merenggut jiwa para syuhadaa: Muhammad Farghali, Abdul Qadir Audah, Yusuf Thal’at, Ibrahim ath-Thib, Handawi Duwaier, dan Muhammad Abdul Lathif, disertai  penangkapan terhadap puluhan bahkan ratusan Ikhwan lainnya untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam penjara Liman Thurrah, Al Harbiy, Al Qal’ah, Abu Za’bal dan sebagainya.
Tragedi berikutnya terjadi tahun 1965 yang ditandai dengan syahidnya Sayyid Quthb, Abdul Fattah Ismail, Muhammad Yusuf Hawasy dan sebagainya dari tokoh terbaik Ikhwan. Ujian tahun 1981 terjadi ketika negeri ini dan masyarakatnya dijual ke tangan Yahudi dan Amerika, mulut-mulut mereka disumpal, masjid-masjid ditutup, lembaga-lembaga, media massa, mimbar-mimbar mereka dibredel, sementara pintu-pintu penjara terbuka untuk menyambut kedatangan kafilah du’at yang terdiri dari orang tua, para pemuda, bahkan untuk kaum wanita dan anak-anak.
Mereka bahkan menggunakan akal orang-orang yang tega menjual diri mereka kepada syetan-syetan Barat untuk menyakiti kaum Muslimin dan wali-wali Allah yang shaleh, yang menolak tunduk kepada selain Allah. Mereka tetap tinggi dan agung dengan keimanannya terhadap tirani kezaliman dengan mengutamakan apa yang ada di sisi Allah daripada berbagai jenis kenikmatan yang ada di muka bumi.
Orang-orang kecil dan rendahan yang duduk di atas singgasana penguasa itu menduga bahwa dengan kekejaman yang dilakukannya mereka sanggup membungkam mulut-mulut para du’at dan menghentikan gerbong kafilahnya yang terus bergerak maju. Mereka lupa bahwa apa yang dilakukannya adalah memerangi Allah yang Maha Kuat dari segala sesuatu, dan Maha Besar dari segala yang besar di dunia ini. Tidak bermanfaat lagi fatwa-fatwa yang dibeli, pernyataan-pernyataan yang mengatasnamakan agama yang dilakukan oleh para ulama resmi dan orang-orang yang serupa dengannya dengan memperindah seluruh perilaku mereka. (Majalah Al Mujtama’, November 1981)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar